08 Juli 2026

Artikel 3: MENYOAL HIDUP

 

Hidup adalah ironi yang sering kali baru kita pahami ketika usia mulai mengajarkan kehilangan.

Sejak kecil, doktrin yang sering ditanamkan dalam benak kita adalah. Belajarlah agar memiliki pekerjaan yang baik, bekerjalah agar memiliki penghasilan yang besar, kumpulkan harta agar hidup dianggap berhasil, naiklah setinggi mungkin agar namamu dikenal banyak orang. semua ungkapan itu seolah menjadi dogma yang bersemayam dalam otak kecil kita membentuk sugesti hingga saat ini. apakah itu salah..?tentu tidak

Yang menjadi persoalan adalah ketika keberhasilan hanya diukur dari apa yang mampu dilihat oleh mata, bukan dari apa yang dirasakan oleh hati.

Filsafat mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah selesai dengan keinginannya. Hari ini ia menginginkan sepeda, besok kenderaan bermotor. Hari ini kendaraan bermotor, besok rumah. Hari ini rumah, besok jabatan. Setelah jabatan datang, ia mengejar pengaruh. Setelah pengaruh dimiliki, ia takut kehilangannya.

Ternyata keinginan tidak mengenal kata "cukup". Ia hanya pandai berganti bentuk.

Ironisnya, tubuh manusia tidak pernah ikut berubah mengikuti ambisinya.

Perut tetap memiliki batas kenyang walau semewah apapun makanan yang dihidangkan di atas meja, tubuh tetap hanya membutuhkan satu tempat untuk beristirahat kalaupun rumah kita bertingkat-tingkat dengan perabotan lengkap nan mewah, kaki tetap melangkah dengan dua telapak yang sama, walaupun kita memiliki kenderaan yang bermerk dan berharga fantastis. Lalu, sebenarnya apa yang kita kejar, untuk siapa semua perlombaan itu?amat sangat dimungkinkan sejatinya itu bukan untuk hidup, melainkan untuk memenuhi ruang validasi sosial, ataupun pengakuan dari orang lain.

Di tengah masyarakat hari ini, kita hidup di zaman ketika kebahagiaan berubah menjadi tontonan. Kesuksesan tidak lagi cukup dirasakan, tetapi harus dipublikasikan. Makan bukan lagi tentang rasa syukur, melainkan tentang foto. Berlibur bukan lagi tentang menikmati perjalanan, tetapi tentang membuktikan bahwa kita mampu bepergian.

Media sosial perlahan mengubah penghargaan menjadi perbandingan, orang lain tidak lagi menjadi tetangga, melainkan mereka berubah menjadi standar untuk kemudian kita bandingkan dengan kehidupan kita.

Akibatnya, banyak orang tampak kaya tetapi miskin ketenangan. Rumahnya luas, tetapi sempit dengan ruang tawa yang tulus dan bahagia, kendaraannya berganti setiap beberapa tahun, tetapi tidurnya selalu ditemani kecemasan, jabatannya tinggi mentereng, tetapi tekanan membuatnya lupa bagaimana cara untuk menikmati hidup.

Di sinilah kenapa agama datang bukan untuk melarang manusia memiliki dunia, melainkan mengingatkan agar dunia tidak memiliki manusia, terkadang kita bermimpi dan menggantungkan angan untuk menaklukan dunia, lalu kita lupa kita hanya butuh pelukan dunia.

Harta yang kita miliki saat ini adalah amanah Tuhan, Jabatan yang disematkan dan kita pikul adalah tanggung jawab, kecantikan dan ketampanan adalah titipan sementara, dan kesehatan adalah nikmat Tuhan yang begitu besar yang terkadang lupa untuk kita syukuri. Semuanya dapat hadir hari ini dan pergi esok hari tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada kita. semua itu akan menjauh dan meninggalkan kita tanpa permisi.

Kitab mulia yang suci, berkali-kali mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya apabila dijadikan tujuan akhir. Bukan karena dunia itu buruk, tetapi karena ia memang tidak diciptakan untuk menjadi tempat menetap. Ia adalah persinggahan dan tempat kita mati bukan rumah yang abadi.

Maka, barangkali pertanyaan terbesar bukanlah, "Berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan?" melainkan, "Apa yang masih kita miliki ketika semua yang bisa dibeli oleh uang mulai pergi meninggalkan kita?", saat kesehatan kita mulai menurun, kendaraan mewah yang dulu kita banggakan karena kita beli dengan harga yang mahal kini tidak mampu menggantikan sepasang kaki yang kuat yang enggan kita rawat dan syukuri kehadirannya. Saat usia mulai menua, wajah rupawan tidak mampu menghentikan waktu, saat malam terasa sunyi, jabatan yang kita banggakan tidak lagi bisa memeluk kita, dan saat musibah datang, rekening yang penuh sering kali tidak mampu membeli satu hal yang paling mahal di dunia yakni kesempatan untuk mengulang waktu bersama orang-orang yang kita cintai.

Mungkin itulah sebabnya, kekayaan terbesar bukanlah apa yang kita simpan di dalam brankas melainkan siapa yang masih duduk bersama kita di meja makan.

Disana masih ada sosok ayah yang masih bisa menasihati, ibu yang masih bisa kita peluk, pasangan yang masih setia menemani, anak-anak yang masih memanggil kita dengan penuh riang yang berbalut rindu, Keluarga yang sehat adalah kemewahan yang sering tidak disadari, justru karena ia selalu ada, padahal di luar sana, banyak orang rela menghabiskan seluruh hartanya hanya untuk mendengar satu suara yang sudah lama hilang.

Kita sering menyebut diri kita miskin karena tidak memiliki rumah yang lebih besar, padahal bisa jadi kita sedang menjadi orang paling kaya, karena masih memiliki keluarga yang lengkap, akhirnya saya menyadari, kebahagiaan yang sering dipertontonkan tidak lain hanyalah debu di atas cermin, debu yang berkilau ketika terkena cahaya, tetapi iya hanya menutupi cermin kebahagiaan yang sesungguhnya, yang benar-benar memantulkan kehidupan dengan pantulan cahaya terang dari hati yang mampu bersyukur. sejatinya hidup tidak pernah meminta kita menjadi manusia yang paling kaya melainkan hidup hanya meminta kita jangan sampai terlambat menyadari bahwa yang paling berharga selama ini ternyata sudah duduk bersama kita, di rumah yang setiap hari kita sebut sebagai tempat untuk kita pulang.

_Febri Abas_
---------------------------------------
Ruang Renung:

" Kelak, kita tidak akan ditanya berapa luas rumah yang pernah kita bangun.
Tidak pula berapa banyak kendaraan yang pernah kita miliki.
Tetapi kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap nikmat yang pernah Allah titipkan.
Maka sebelum mengejar yang belum tentu menjadi milik kita, jagalah apa yang hari ini masih Allah percayakan kepada kita.
Karena nikmat yang paling mahal sering kali bukan yang paling mewah.
Melainkan yang masih ada".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar