Ada masa ketika jam tidak lagi hanya menunjukkan pukul berapa sekarang. Ia berubah menjadi pengingat berapa banyak kesempatan yang mungkin telah berlalu.
Usia terus berjalan tanpa pernah meminta izin. Rambut mulai kehilangan warna, tenaga tak lagi sekuat dulu, sementara dunia seolah memiliki daftar panjang tentang siapa yang masih layak diberi kesempatan dan siapa yang dianggap telah terlambat.
Konon, usia tiga puluh adalah masa membangun. Empat puluh adalah masa memanen. Namun kenyataannya, tidak semua ladang berhasil ditanami tepat waktu. Ada yang justru baru belajar kembali mencangkul tanah ketika orang lain telah menikmati hasil panennya.
Mungkin hidup memang tidak pernah benar-benar adil. Tetapi hidup juga tidak pernah sepenuhnya menutup jalan.
Aku pernah berdiri di tempat yang disebut orang sebagai zona nyaman. Gaji datang tepat waktu. Jabatan terus naik. Orang-orang melihatnya sebagai keberhasilan.
Yang tidak mereka lihat adalah bagaimana setiap hari aku pulang dengan tubuh yang utuh, tetapi kepala yang terasa semakin kosong.
Ada ruang yang perlahan membuat seseorang berhenti bertanya. Berhenti mencipta. Berhenti menjadi dirinya sendiri.
Semuanya tampak baik-baik saja, hingga suatu hari aku menyadari bahwa yang sedang bekerja bukan lagi diriku, melainkan sekadar kebiasaan.
Lalu aku pergi.
Keputusan itu terdengar bodoh bagi sebagian orang.
Meninggalkan sesuatu yang telah susah payah dibangun demi sesuatu yang bahkan belum memiliki bentuk.
Mereka mungkin benar.
Sebab setelah keluar, yang menyambut bukan kebebasan, melainkan kenyataan.
Tagihan tetap datang.
Utang tidak ikut menghilang.
Kepercayaan orang harus dibangun kembali dari awal.
Modal belum tentu tersedia.
Dan usia ternyata tidak pernah berhenti bertambah.
Di situlah aku memahami bahwa pertarungan terbesar bukan melawan orang lain.
Melainkan melawan waktu.
Waktu yang terus berjalan seolah berkata, "Cepatlah. Orang-orang seangkatanmu sudah jauh di depan."
Namun setiap kali ingin menyerah, aku melihat rumah.
Di sana ada seseorang yang memilih bertahan bersamaku ketika keadaan sedang tidak mudah.
Ada anak-anak yang mungkin belum memahami rumitnya kehidupan, tetapi percaya bahwa ayahnya akan selalu menemukan jalan.
Mereka adalah tulang rusuk yang mengingatkanku bahwa pulang bukan sekadar kembali ke sebuah alamat.
Pulang adalah alasan mengapa seseorang memilih terus berjuang.
Aku mulai mengerti bahwa menjadi kepala keluarga bukan berarti selalu menjadi orang yang paling kuat.
Kadang berarti menjadi orang yang tetap berdiri, meski lututnya mulai gemetar.
Kadang berarti tersenyum ketika sebenarnya sedang menghitung sisa harapan.
Kadang berarti menenangkan orang lain, sementara di dalam dada sendiri badai belum juga reda.
Barangkali itulah yang tidak banyak diceritakan.
Bahwa seorang laki-laki sering kali menangis dalam diam.
Bukan karena ia lemah.
Melainkan karena ia tahu ada banyak hati yang bergantung pada ketegarannya.
Hari-hari ini aku sedang bertarung dengan waktu.
Tetapi aku tidak ingin bertarung sendirian.
Ada doa seorang istri yang menguatkan langkahku.
Ada tawa anak-anak yang membuatku percaya bahwa harapan belum selesai.
Dan ada mimpi kecil yang sedang kubangun, sedikit demi sedikit, melalui tulisan-tulisan yang lahir dari ruang bernama SUNYI.
Aku tidak tahu apakah semua ini akan berhasil.
Aku tidak tahu apakah usaha yang sedang kurintis akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar.
Aku juga tidak tahu apakah dunia akan memberi kesempatan sekali lagi.
Yang kutahu hanya satu.
Aku tidak ingin menjadi ikan mati.
Aku tidak ingin hidup sekadar mengikuti derasnya arus hingga lupa bahwa Tuhan masih memberiku sirip untuk berusaha.
Karena selama sirip itu masih mampu bergerak, sekecil apa pun gerakannya, selalu ada kemungkinan untuk menemukan tepian.
Mungkin bukan hari ini.
Mungkin bukan besok.
Tetapi selama masih ada keluarga yang menunggu di rumah, selama masih ada harapan yang belum dipadamkan oleh putus asa, maka pertarungan ini belum selesai.
Dan jika suatu hari nanti aku berhasil melewati semuanya, semoga aku tidak hanya membawa keberhasilan.
Semoga aku juga membawa cerita.
Sebab mungkin, di luar sana, ada seseorang yang sedang membaca tulisan ini sambil merasa dikejar oleh waktu yang sama.
Jika benar demikian, izinkan aku berkata pelan kepadanya:
"Kita memang sedang melawan arus. Tetapi kita bukan ikan mati."
_Febri Abas_
"SUNYI"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar