"Ada masa ketika seseorang tidak sedang kehilangan Tuhan, tapi Ia hanya kehilangan kemampuannya memahami Tuhannya"
Ada pertanyaan yang jarang berani diucapkan, Bukan karena pertanyaannya salah, melainkan karena orang takut dianggap sesat hanya karena sedang berpikir. Bagaimana jika selama ini aku hanya diajarkan untuk percaya, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana menghadapi keraguan?
Aku pernah sampai pada titik itu, Bukan karena membenci Tuhan justru karena terlalu ingin memahami-Nya.
Aku membaca kisah-kisah para nabi, aku membaca tentang sejarahnya Qarun, yang ditenggelamkan bersama hartanya, aku membaca tentang ujian, azab, pahala, surga, dan neraka, bahkan diwaktu kecil pikiran ini selalu dicekoki dengan cerita tentang syurga dan neraka, namun di sela semua itu muncul pertanyaan yang diam-diam mengganggu pikiranku.
Jika Tuhan Maha baik, mengapa penderitaan terasa begitu panjang?, jika segala sesuatu berada dalam kuasa dan genggaman-Nya, mengapa ada begitu banyak orang yang jatuh tanpa pernah sempat bangkit bahkan berakhir tragis karena depresi dan prustasi lalu akhirnya "bunuh diri"?. Pertanyaan-pertanyaan itu, tidak lahir dari kesombongan, bukan karena aku ingkar terhadap eksistensi Tuhan tapi kadang pertanyaan itu lahir dari jiwa dan hati hati seorang hamba yang lelah dengan kondisi dan keadaan.
Ada saat ketika seseorang telah berusaha sekuat tenaga, tetapi kenyataan tetap tidak berpihak. Pada saat seperti itu, iman tidak selalu hadir dalam bentuk keyakinan yang utuh. Kadang ia hadir sebagai air mata, kadang sebagai diam yang panjang, dan terkadang sebagai pertanyaan yang tidak menemukan jawaban.
Mungkin sebagian orang akan berkata, "Jangan bertanya.", namun lagi-lagi aku berpikir bukankah aku dihadiahi akal untuk berpikir dan bukankah itu juga merupakan anugerah yang diberi olehnya?
Bukankah manusia diciptakan untuk berpikir?bahkan dalam qalam suci sering di siratkan lewat ayatnya untuk selalu berpikir "afalaa tatafakkarun" apakah engkau tidak berpikir.
Yang perlu dijaga bukanlah berhentinya pertanyaan, melainkan kerendahan hati ketika mencari jawabannya, aku mulai menyadari bahwa sering kali yang kutolak bukanlah Tuhan, melainkan cara manusia menggambarkan tentang-Nya. dan terkadang kita sebagai manusia berbicara seolah mengetahui seluruh maksud yang ada dilangit, padahal kita hanya mengetahui sebagian kecil dari kehidupan ini. Bisa jadi ada penderitaan yang tidak akan selesai dijelaskan dengan logika, bisa jadi ada kebahagiaan yang juga tidak selesai dijelaskan oleh sebab-akibat.
Aku tidak memiliki semua jawaban dari sekian banyak pertanyaan yang menggerayangi pikiranku dan mungkin memang aku tidak harus memiliki jawaban-jawabannya. Barangkali menjadi manusia berarti belajar hidup di antara dua ruang: ruang keyakinan dan ruang pertanyaan, disitulah kerendahan hati diuji.
Artikel ini bukanlah kesimpulan, Ia hanyalah catatan seorang manusia yang sedang risau dan gelisah, seorang anak manusia yang pernah mempertanyakan banyak hal dan mungkin masih akan terus bertanya tentang semua yang dihadiahkan Tuhan kepada kita umat manusia yakni alam semesta. Sebab terkadang, perjalanan menuju Tuhan bukanlah perjalanan orang-orang yang selalu yakin, melainkan perjalanan mereka yang terus mencari, meski langkahnya dipenuhi keraguan. "Wallahu a'lam bi shawab"
Ruang Renung
"Saya meyakini Tuhan tidak marah karena manusia bertanya, Yang perlu dijaga adalah agar pertanyaan tidak membuat kita berhenti mencari kebenaran, dan keyakinan tidak membuat kita berhenti bersikap rendah hati."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar