"AKU BERHENTI BERHARAP, Bahkan kepada Tuhan".
Aku berhenti berharap, Bahkan kepada Tuhan.
Bukan karena aku berhenti percaya.
Bukan pula karena aku marah kepada-Nya.
Aku hanya lelah menggantungkan hatiku pada apa yang belum tentu terjadi.
Namun, ada satu hal yang tak akan pernah berhenti kulakukan:
yakni, berdoa. Sebab bagiku, doa bukan sekadar harapan bukan pula daftar permintaan yang menunggu dikabulkan. namun, menurutku do'a adalah ruang untuk menenangkan diri, ruang dimana aku meminta petunjuk agar tahu langkah apa yang harus kuambil setelah ini, tempat dimana aku bisa berucap dan berbicara tanpa ada yang protes, tanpa ada yang mengkritisi dan tanpa ada yang mendiskreditkan harapanku. Karena mungkin, yang mengubah hidupku bukan jawaban atas doaku, melainkan keberanian untuk menjalankan petunjuk yang Tuhan titipkan melalui doa itu.
diperjalanannya, semakin lama aku merenung, semakin aku merasa bahwa doa bukan sekadar rangkaian kata yang keluar dengan sistematis dan tertata rapi dari lisan. melainkan do'a bagiku merupakan alat kehidupan. Ketika do'a belum dikabulkan bukan alasan untuk berhenti melangkah, tetapi tenaga yang membuat kita tetap berjalan.
Karena itu, aku tidak lagi melihat doa hanya sebagai harapan atau daftar permintaan. Bagiku, doa adalah arah, do'a adalah tolls dan do'a adalah kesadaran yang mengubah niat menjadi tindakan, lalu tindakan menjadi perjuangan.
Mungkin karena itulah kita sering keliru menilai seseorang. Kita begitu mudah menyebutnya pendosa, tetapi jarang melihat proses yang sedang ia jalani. Bisa jadi, hari ini ia sedang membangun target hidupnya, sedang melawan dirinya sendiri, sedang berusaha menjadi manusia yang lebih baik, bukankah semua yang dia lakukan itu juga bagian dari doa?
Aku kemudian teringat satu kalimat yang sejak kecil sering kita dengar: "Setiap pekerjaan diawali dengan niat.", Dulu aku mengira itu hanya kalimat yang menuntun kita, membentuk kita untuk menjaga adab, namun, disisi lain aku melihatnya sebagai sebuah petunjuk, niat adalah titik pertama ketika seseorang memilih untuk bangkit setelah jatuh, Ia adalah keputusan untuk memulai kembali ketika semuanya terasa berakhir.
menurutku, Barangkali di situlah doa bekerja, bukan sekadar simbolitas ketika kita mengangkat tangan untuk menengadah, tetapi jauh sebelum itu, di dalam hati yang memutuskan untuk tidak menyerah, di dalam langkah yang tetap memilih berjalan, dan di dalam jiwa yang terus mencari jalan menuju ridha Allah.
Mungkin, itulah sebabnya doa bukan hanya sesuatu yang diucapkan melainkan sesuatu yang harus dihidupkan.
_FAs_
------------------------------------
"Ruang Renung"
"usaha merupakan amanat yang di kasih oleh Tuhan yang harus dijalani dan dihidupkan, sementara hasil, biarlah itu menjadi hak preoregatifnya Tuhan"



Komentar
Posting Komentar