Puisi Merdeka untuk siapa..?
MERDEKA UNTUK SIAPA..?
Setiap tahun,
bendera itu kembali dikibarkan dengan seremoni.
Degap langkah menggema,
penggerek kompak menghentak bumi,
dan dengan satu komando—
semua berdiri,
mengangkat tangan,
memberi hormat
kepada sang merah putih.
Namun, Ironi....
Ketika perayaan
hanya menjadi seremoni belaka.
Tanpa makna.
Tanpa perenungan.
Terlihat khidmat,
namun miskin hikmah.
Bendera yang dahulu direbut
dengan darah dan air mata,
dengan tubuh yang diregang nyawa,
kini berkibar gagah
di langit Nusantara,
diiringi pekik:
MERDEKAAAAAAA!
Tetapi hari ini...
Aku ingin bertanya.
Merdeka untuk siapa?
Apakah kemerdekaan
hanya untuk mereka yang memiliki tahta?
Apakah hanya untuk mereka
yang memiliki modal?
Ataukah hanya untuk mereka
yang dekat dengan kekuasaan?
Mereka mengenakan jubah rakyat,
berbicara atas nama rakyat,
namun tak lagi merasakan
bagaimana hidup sebagai rakyat.
Bahkan dalam perayaan kemerdekaanmu
masih terlihat batas yang begitu jelas:
antara mereka
yang duduk di atas panggung,
dan mereka
yang berdiri di bawah terik matahari.
Mereka duduk di kursi megah,
dilayani seperti raja dan ratu,
sementara rakyat
bermandikan peluh
di bawah panas matahari,
menikmati kemerdekaan
dengan cara yang sederhana:
menunggu.
Menunggu harga yang lebih terjangkau.
Menunggu pekerjaan.
Menunggu pelayanan.
Menunggu keadilan.
Lalu dari atas panggung,
dengan dada yang membusung,
pidato-pidato dikumandangkan.
Seolah suara dari pengeras suara
adalah corong yang melahirkan
dendang syurga pengharapan
bagi rakyat.
Bukankah kita sudah merdeka?
Lalu...
Mengapa derita itu masih ada?
Mengapa kesenjangan
masih menganga?
Mengapa masih ada
tuan dan puan
yang ingin terus dilayani rakyat?
Bukankah dalam demokrasi
seharusnya rakyatlah
yang menjadi tuan?
Hari ini,
ketika merah putih
kembali menari di langit,
sakit itu terasa
hingga ke tulang-belulang.
Bukan karena
aku tidak mencintai negeri ini.
Justru karena
aku terlalu mencintainya.
Sakit melihat
para elit mempertontonkan kekayaan
di tengah rakyat yang sedang menghitung
berapa rupiah yang tersisa
untuk menyambung hidup esok hari.
Sakit melihat kesombongan
yang berjalan tanpa rasa malu.
Sakit melihat minimnya empati.
Dan lebih sakit lagi
ketika realitas rakyat
justru ditolak
oleh mereka yang seharusnya
mendengarkannya.
Sebab rakyat
tidak selalu meminta kemewahan.
Rakyat hanya ingin
dilayani dengan layak.
Didengar ketika mengeluh.
Dihormati ketika membayar pajak.
Dibantu ketika kesulitan.
Diperlakukan sebagai manusia,
bukan sekadar angka
dalam pidato-pidato politik.
Maka...
Jika hari ini kita kembali meneriakkan:
MERDEKA!
Izinkan Ruang Sunyi bertanya:
Merdeka untuk siapa?
Sebab kemerdekaan
bukan sekadar bendera yang berkibar.
Bukan sekadar upacara.
Bukan sekadar pidato
yang menggema di pengeras suara.
Kemerdekaan adalah
ketika rakyat tidak lagi merasa
menjadi tamu
di negerinya sendiri.
Ketika kekuasaan mengerti
bahwa kursi hanyalah amanah.
Ketika mereka yang berada di atas
tidak lupa
bahwa ada rakyat
yang membuat mereka
bisa duduk di sana.
Dan ketika merah putih berkibar,
ia bukan hanya mengingatkan kita
tentang mereka yang telah gugur
demi merebut kemerdekaan.
Tetapi juga bertanya
kepada kita yang masih hidup:
Apa yang telah kita lakukan
agar kemerdekaan itu
benar-benar dirasakan
oleh semua?
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka.
Barangkali...
yang belum selesai bukanlah
perjuangan merebut kemerdekaan.
Melainkan perjuangan
untuk memastikan
bahwa kemerdekaan
tidak hanya menjadi milik
mereka yang berkuasa.
Dirgahayu, Indonesia.
Dari sebuah ruang yang sunyi,
kami tidak sedang membenci negeri ini.
Kami hanya sedang bertanya
dengan suara yang mungkin
tak sampai ke mimbar:
Merdeka untuk siapa...?



Komentar
Posting Komentar