"Rasulullah tidak hanya Lahir, tapi Berjalan"
"Pada hari ini, dibulan ini kita masih pada momentum peringatan Maulid Nabi...", olehnya mari sama-sama kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan yang maha esa, soraya menjadi bagian dari peninngkatan imunitas iman dan takwa kita kepada Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Setiap manusia yang berada di tempat ini mempunyai satu kesamaan. Kita semua pernah dilahirkan, Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa, Tidak membawa jabatan, Tidak membawa rumah. Tidak membawa rekening, Tidak membawa nama besar,Kita hanya datang sebagai manusia.
Lalu waktu membawa kita berjalan, Kita tumbuh, Kita kehilangan, Kita mencintai, Kita terluka, Kita kecewa, Kita berhasil, Kita gagal Sampai tiba pada suatu masa. perjalanan itu akan berhenti, dan pasti akan kembali kepada Allah.
Karena itu, ketika hari ini kita memperingati kelahiran manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi, mungkin pertanyaannya bukan hanya. “Kapan Muhammad ﷺ dilahirkan?” Tetapi: “Bagaimana Muhammad ﷺ menjalani hidup setelah dilahirkan?”
Dan yang lebih penting lagi “Apa yang terjadi pada diri kita setelah kita dilahirkan?”
Olehnya pada mometum ini, kita sama sama belajar tentang sosok mulia nabi Muhammad SAW. kita ikuti setiap Fase perjalanannya. Karena beliau tidak hanya lahir, tapi berjalan"
1. Rasulullah lahir sebagai anak yatim
Ayah beliau wafat sebelum beliau lahir di dunia ini, kemudian setelah beliau lahir kedunia ibuny siti Aminah pun meninggalkannya untuk selamanya, di usia beliau masih beliau dan kecil. beliau kemudian di asuh oleh kakenya bernama Abdul Muthalib, lalu kemudian dilanjutkan pengasuhannya oleh paman beliau Abu Thalib. namun saya selaku khatib tidak mau mengajak kita semua untuk mendengar cerita tapi mengajak kita semua untuk mengambil khimah sebagai bahan perenungan buat kita dari cerita itu. yang pasti begitulah sekelumit gambaran perjalanan manusia mulia bernama Muhammad, dimulai dengan kehilangan, bukan dengan kemewahan, tidak terlahir dilingkaran kekuasaan, bukan dengan kehidupan sempurna.
Mungkin ada di antara kita yang hari ini sedang kecewa dengan hidupnya; Ada yang merasa hidupnya tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan, Ada yang kehilangan orang yang dicintai, ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan kepercayaan dan ada pula yang bahkan kehilangan dirinya sendiri.
padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sesuatu yang sangat dalam:
kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi dalam hidup kita, Tetapi kita masih bisa memilih manusia seperti apa yang akan lahir dari semua yang terjadi kepada kita.
Hadirin jangan biarkan penderitaan yang mendera menjadi penentu akhlak kita semua.
2. Rasulullah dikenal sebagai pengembala kambing dan Al-Amin
dimasa hidupnya Rasulullah pernah menjadi pengembal kambing, dan kemudian beliau tumbuh sebagai pedagang yang dikenal amanah, sehingga masyarakat di kota mekah pada waktu itu memberi gelar kepada beliau dengan gelar Al-Amin (dapat dipercaya).
sebelum beliau mendapatkan wahyu dari Allah beliau sudah belajar dan diajarkan bagaimana membawa amanah manusia. sebelum menjadi pemimpin umat beliau sudah belajar menjaga.
lalu pertanyaan mendasar untuk kita semua, kita sering bermimpi untuk menjadi orang besar, ingin di hormati, ingin didengar, ingin punya jabatan, ingin punya pengaruh, tetapi apakah orang-orang yang hidup disamping kita apakah mereka merasa aman dengan kita,.? apakah mereka sudah menaruh percaya kepada kita,? jangan terlalu mengaku cinta kepada Rasulullah jika lisan kita justru membuat orang takut, jangan menge-judge diri kita mengikuti Rasulullah jika kita masih abai terhadap amanah kecil.
3. Gua Hira dan perintah pertama: Iqra'
Ketika usia Rasulullah ﷺ mendekati empat puluh tahun, beliau sering melakukan tahannuts di Gua Hira.
Di sana beliau menyendiri. Kemudian datanglah Jibril membawa wahyu pertama:
اقْرَأْ
Bacalah.
ini hal Menarik sekali
Wahyu pertama tidak dimulai dengan perintah untuk menguasai manusia,Bukan tentang kekuasaan.
Bukan tentang harta, Tetapi: Bacalah.
Bacalah dunia, Bacalah kehidupan, bacalah tanda-tanda kebesaran Allah, ddan mungkin yang paling sulit: bacalah diri kita sendiri, Sebab kita mungkin bisa membaca banyak hal, kita bisa membaca berita yang bersliweran di berbagai platform media sosial, kita membaca berbagai macam komentar, kita membaca kehidupan orang lain, bahkan kadang kita sangat rajin membaca kesalahan orang lain, tetapi; kapan terakhir kali kita benar-benar membaca diri sendiri? Kapan terakhir kali kita duduk dalam kesunyian dan bertanya:
“Ya Allah, sebenarnya saya sedang menjadi manusia seperti apa?”
Barangkali bukan Allah yang terlalu jauh. barangkali kita yang terlalu bising untuk mendengar umpatan dri dunia luar yang justru merusak cara kita berpikir.
dari perjalanannya pun kita belajar bahwa Kebenaran tidak selalu mendapatkan tepuk tangan
Setelah menerima wahyu, Rasulullah ﷺ berdakwah, tetapi dakwah beliau tidak langsung disambut, ada berbagai penolakan yang beliau terima, ada penghinaan yang dialamatkan ke beliau, sahabat- sahabatnya disiksa, ada pemboikotan dimana mana, bahkan Rasulullah ﷺ kehilangan orang-orang yang sangat beliau cintai, Ini mengajarkan kepada kita:
Kebenaran tidak selalu mendapatkan tepuk tangan, Tetapi hari ini kita hidup dalam zaman ketika jumlah orang yang menyukai kita sering kita jadikan ukuran kebenaran, ketika dipuji, kita merasa benar, ketika dikritik, kita merasa dizalimi, maka lagi lagi mari kita bertanya:
Apakah selama ini kita benar-benar mencari kebenaran?ataukah kita hanya sedang mencari pembenaran, mencari validasi?karena keduanya terdengar hampir sama, tetapi membawa manusia ke tempat yang sangat berbeda.
hadirin yang di muliakan Allah
4. Thaif: ketika luka tidak berubah menjadi dendam
disatu waktu Rasulullah ﷺ pernah pergi ke Thaif, beliau berharap menemukan manusia yang mau mendengarkan dakwahnya, justru apa yang beliau terima adalah penolakan dan lemparan batu hingga beliau terluka. dalam keadaan seperti itu, datang tawaran malaikat untuk menghancurkan mereka.
Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah. Rasulullah ﷺ tidak memilih kehancuran mereka. beliau justru berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rasulullah ﷺ bukan manusia yang tidak bisa terluka, beliau manusia, beliau bisa merasakan sakit, tetapi beliau tidak membiarkan sakit itu menentukan siapa dirinya. maka lihatlah diri kita.
Ada luka yang menjadikan manusia lembut, ada luka yang menjadikan manusia bijaksana.
Tetapi ada pula luka yang kita pelihara bertahun-tahun, kemudian kita gunakan untuk membenarkan kebencian. Jangan biarkan orang yang menyakitimu menentukan manusia seperti apa dirimu.
Sebab kalau seseorang menyakitimu lalu engkau berubah menjadi manusia penuh kebencian, bukankah ia telah mengambil sesuatu yang jauh lebih besar darimu daripada sekadar perasaanmu?,ia telah mengambil akhlakmu sebagai umat Rasulullah.
5. Hijrah: ada yang harus ditinggalkan
Kemudian Rasulullah ﷺ berhijrah, Meninggalkan Makkah.
Tanah kelahiran yang beliau cintai. tetapi ada saat ketika seseorang harus meninggalkan sesuatu demi mempertahankan sesuatu yang lebih besar dan mungkin hijrah kita bukan perpindahan dari satu kota ke kota lain. mungkin yang harus kita hijrahkan adalah diri kita sendiri, dari kesombongan, dari dendam, dari kebiasaan buruk, dari keinginan untuk selalu menang, dari kebutuhan untuk selalu dipuji, dari rasa egois yang selama ini kita sebut sebagai harga diri.
Karena: Tidak semua yang kita pertahankan adalah sesuatu yang harus dipertahankan.
Kadang-kadang kita hanya takut melepaskan sesuatu yang sebenarnya sedang menghancurkan kita.
6. Fathu Makkah: siapa kita ketika berada di atas?
Bertahun-tahun kemudian Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah, kali ini beliau bukan orang yang terusir.
Beliau datang dengan kekuatan, orang-orang yang dahulu menyakiti beliau berada di hadapannya dan secara manusiawi, beliau memiliki kesempatan untuk membalas, Tetapi kemenangan tidak menjadikan Rasulullah ﷺ berubah menjadi manusia yang dahulu beliau lawan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita sering melihat karakter manusia ketika dia tidak punya apa-apa, Tetapi ada ujian yang lebih besar:
Siapa kita ketika kita memiliki kekuasaan? Ketika kita punya uang, ketika kita punya jabatan, ketika orang lain membutuhkan kita, ketika kita punya kesempatan membalas orang yang pernah menyakiti kita, karena mungkin kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil mengalahkan orang lain.
Kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil mengalahkan bagian buruk dalam diri kita sendiri.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
seperti Rasulullah kita pun sedang berjalan, kita tidak tahu berapa panjang jalan kita, kita tidak tahu kapan perjalanan itu selesai, tetapi setiap hari kita sedang menentukan: manusia seperti apa yang sedang kita bangun dalam diri kita.
Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa lama saya sudah hidup?”
Tanyakan:
“Apa yang sudah saya lakukan dengan kehidupan yang Allah berikan kepada saya?”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hari ini kita memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ, Tetapi perlu kita bahwa Rasulullah tidak hanya lahir.
Beliau berjalan dan kita pun berjalan, kita berjalan melewati masa kanak-kanak. kita berjalan melewati cinta, kita berjalan melewati kehilangan, kita berjalan melewati keberhasilan dan kegagalan, kita berjalan melewati manusia-manusia yang datang dan pergi.
Sampai suatu masa perjalanan kita akan selesai dengan satu kat sakral yakni kematian.
Maka ketika harta tidak lagi berguna, ketika jabatan tidak lagi menyebut nama kita, ketika orang-orang yang mengenal kita satu demi satu pergi, ketika tubuh yang selama ini kita rawat kembali menjadi tanah,
lalu apa yang tersisa dari diri kita?
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mungkin itulah salah satu cara terbaik memahami Maulid, bukan hanya mengingat kapan Rasulullah ﷺ dilahirkan, seperti cerita cerita yang serinng kita dengarkan
Tetapi mengingat bagaimana beliau menjalani kehidupan setelah dilahirkan, karena kehidupan yang mulia bukan hanya tentang bagaimana ia dimulai, tetapi bagaimana ia dijalani.
Kita semua pernah dilahirkan, kita semua sedang berjalan dan kita semua akan pulang.
Rasulullah ﷺ telah menunjukkan kepada kita bagaimana perjalanan itu dijalani:
dengan kehilangan tanpa kehilangan kasih sayang, dengan luka tanpa menjadi pendendam, dengan kesunyian tanpa kehilangan arah, dengan kekuasaan tanpa kehilangan kerendahan hati, dan dengan kematian tanpa meninggalkan kehampaan.
Lalu bagaimana dengan kita? Kita sedang berjalan ke mana?
Dan ketika perjalanan itu selesai, ketika kita berdiri sendirian di hadapan Allah...
manusia seperti apa yang akan kita bawa menghadap-Nya?
Semoga kelahiran Rasulullah ﷺ tidak hanya kita rayakan dengan shalawat di lisan,
tetapi kita lanjutkan dengan perjalanan akhlak dalam kehidupan.
Karena Rasulullah tidak hanya lahir, Beliau berjalan dan sekarang giliran kita semua, tidak perlu jadi rasulullah tapi cukuplah menjadikan beliau sebagai role mode untuk kehidupan kita.


Komentar
Posting Komentar