Ada satu doa yang akhir-akhir ini semakin sering kupanjatkan, bukan doa agar menjadi kaya, bukan pula doa agar hidupku dipenuhi kemudahan. Melainkan doa yang mungkin terdengar sederhana, tetapi begitu berat maknanya.
"Ya Allah, jangan panggil aku sebelum amanah yang Engkau titipkan sempat kuusahakan sebaik-baiknya."
Semakin bertambah usia, aku semakin sadar bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling lama tinggal di dunia. Sebab sejak awal, setiap manusia telah berjalan menuju batas waktunya masing-masing.
Aku tidak tahu kapan waktuku tiba?Aku tidak tahu berapa banyak senja lagi yang masih bisa kusaksikan, yang kutahu hanyalah, suatu hari nanti namaku akan dipanggil, dan perjalanan di dunia akan berakhir.
Dalam renunganku, aku sering membayangkan seolah ada sehelai daun yang membawa kisah hidupku. Entah kapan daun itu akan layu dan gugur, aku tidak pernah mengetahuinya. Yang kutahu, sebelum saat itu tiba, aku ingin memastikan bahwa aku tidak berhenti berusaha menunaikan amanah yang Allah titipkan kepadaku, aku tidak takut kepada kematian.
Yang membuat dadaku sesak adalah kemungkinan pulang, sementara masih banyak tanggung jawab yang belum sempat kuselesaikan.
Aku pernah memiliki mimpi yang sederhana. Mengumpulkan sedikit demi sedikit harta untuk keluarga, menyediakan tempat yang layak, menjadi sandaran ketika mereka membutuhkan. Namun hidup ternyata tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ada keputusan yang keliru, ada kepercayaan yang dibalas dengan pengkhianatan, ada mimpi yang runtuh bersama aset yang perlahan harus kulepas demi membayar utang.
Di fase ini aku tidak lagi sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, luka itu sudah terlalu lama untuk terus dipelihara dan akku memilih belajar menerima, bukan karena tidak sakit, melainkan karena aku percaya, hidup tidak selalu memberi penjelasan atas setiap kehilangan. Namun, ada satu hal yang hingga hari ini masih membuatku gelisah.
Bagaimana jika Tuhan memanggilku sebelum semua amanah itu selesai?
Bagaimana jika anak-anakku harus memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawabku?
Itulah sebabnya, doa yang paling sering keluar dari bibirku bukanlah doa agar menjadi orang kaya, melainkan;
"Ya Allah, jangan panggil aku sebelum utangku selesai."
Bukan karena aku terlalu mencintai dunia, justru karena aku ingin meninggalkan dunia tanpa menyisakan beban bagi mereka yang kucintai.
Sejak anak-anakku masih kecil, aku tidak pernah ingin mereka tumbuh dengan dimanjakan oleh harta, yang selalu kuusahakan adalah mengajari mereka berpikir.
Setiap mereka ingin melakukan sesuatu, aku sering bertanya,
"Manfaatnya apa?"
Bagiku, pertanyaan itu jauh lebih penting daripada, "Berapa untungnya?", karena keuntungan hanya bertahan sesaat sedangkan manfaat dapat hidup jauh lebih lama daripada usia pemiliknya. Aku ingin mereka memuliakan hadiah terbesar dari Tuhan, yaitu akal.
Aku ingin mereka belajar bahwa hidup bukan sekadar mengejar apa yang bisa dimiliki, tetapi tentang apa yang bisa diberikan, tidak pernah berharap mereka membalas semua yang kulakukan karena aku sadar bahwa, kasih sayang orang tua bukanlah utang yang harus dibayar.
Jika suatu hari mereka berhasil, biarlah keberhasilan itu menjadi milik mereka sepenuhnya.
Jika suatu hari mereka mampu berdiri dengan kaki sendiri, aku hanya ingin menjadi doa yang mengiringi langkah mereka kelak tidak ingin menjadi beban mereka.
Tetapi aku juga belajar bahwa cinta dalam keluarga bukanlah soal siapa yang memberi dan siapa yang menerima, Ia adalah tentang saling menguatkan ketika salah satu mulai melemah.
Semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa warisan terbesar ternyata bukan rumah yang megah, bukan kendaraan, bukan pula rekening yang penuh, Semua itu bisa habis. Yang tetap tinggal adalah cara berpikir, nilai-nilai yang ditanamkan, keteladanan yang diwariskan, dan doa yang terus hidup di hati anak-anak.
Mungkin inilah alasan kenapa saya menulis.
Di tengah segala keterbatasan, tulisan menjadi caraku meninggalkan jejak. Jika suatu hari suaraku tak lagi terdengar, semoga masih ada kalimat-kalimat yang membuat seseorang berhenti sejenak, lalu merenung dan jika kelak daun kehidupanku benar-benar layu dan gugur sesuai ketetapan-Nya, semoga aku pergi bukan dengan membawa kesempurnaan, melainkan dengan membawa kesungguhan bahwa aku telah berusaha. Karena, pada akhirnya, manusia tidak dinilai dari apakah seluruh cita-citanya berhasil diwujudkan.
Melainkan dari kesungguhannya menjaga amanah selama napas masih Allah titipkan, maka untuk itu sebelum daun itu gugur, izinkan aku bekerja lebih keras, sebelum daun itu gugur, izinkan aku melunasi tanggung jawabku.
Sebelum daun itu gugur, izinkan aku memeluk keluargaku lebih lama dan sebelum daun itu gugur, izinkan aku meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada harta: iman, kasih sayang, cara berpikir, dan jejak kebaikan yang terus hidup, meski namaku tak lagi dipanggil di dunia.
_Febri Abas_
_______________________________
Ruang Renung
"Kita sering sibuk menghitung berapa lama lagi umur yang tersisa, padahal ada pertanyaan yang paling penting, sudahkah hari ini menjadi bekal yang pantas untuk kita tinggalkan"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar